RSS

Waspadai Budaya Remaja yang Merusak

19 Des

Remaja Suka Coba-coba

Masa usia remaja merupakan masa usia transisi dimana seseorang sedang mencari jati diri. Jiwa remaja identik dengan sifat ingin coba-coba. Inilah yang menyebabkan remaja kerap menjadi objek perbincangan bukan hanya disebabkan budaya remaja yang positif, namun juga bentuk-bentuk kebiasaan negatif kaum remaja yang tak jarang berakibat buruk terhadap kehidupan sosial lingkungan sekitar, bahkan keluarga si remaja bersangkutan.

Usia remaja adalah usia yang seharusnya berada dalam lingkup pembinaan kepribadian. Di samping peran keluarga, lingkungan juga memberi pengaruh terhadap perkembangan pribadi seorang remaja. Budaya remaja baik yang bersifat positif maupun negatif kerap kali dipengaruhi oleh kondisi lingkungan si remaja itu tumbuh.

Di dalam masyarakat ada banyak budaya remaja yang baik maupun yang buruk. Setiap remaja sebenarnya bisa memilih, budaya mana yang akan ia jadikan sebagai kebiasaan hidup. Ketidakharmonisan kehidupan di lingkungan keluarga biasanya menjadi faktor seorang remaja memilih budaya-budaya negatif dalam pergaulan.

Alasan perhatian dan kasih sayang orang tua masih cukup dominan menjadi faktor penyebab berbagai bentuk kenakalan remaja. Kondisi keluarga yang bermasalah alias broken home pun turut memperburuk kondisi, di samping nilai spiritual keagamaan yang minim dalam sebuah keluarga.

Bentuk-bentuk Budaya yang Merusak

Ada banya bentuk budaya remaja yang secara tidak sadar ternyata merupakan hal-hal awal yang akan memicu seorang remaja melakukan tindakan asusila di tengah masyarakat. Mewaspadai budaya remaja yang kurang baik sedini mungkin merupakan cara antisipasi yang tepat sebelum generasi muda keluarga kita terjebak dalam lingkup kenakalan remaja yang lebih parah di tengah masyarakat.

Berikut ini disajikan berbagai contoh budaya remaja yang pada mulanya hanya sederhana, namun lama kelamaan akan menjadi faktor pemicu kegagalan para remaja kita melalui usia remaja;

Budaya pacaran dan pergaulan bebas
Usia remaja adalah usia dimana para remaja mulai tertarik mengenal lawan jenis. Hubungan suka sama suka ini biasanya akan berujung pada proses pacaran yang dikenal sebagai upaya penjajakan terhadap lawan jenis. Penjajakan dilakukan dilakukan sebagai langkah memilih pasangan hidup.

Nah, bagi Anda yang menginginkan anak-anak remaja Anda hidup sukses menempuh pendidikan tinggi dan berhasil dalam karir, tak salah jika Anda mengontrol kehidupan berpacaran remaja putera puteri Anda. Kontrol diperlukan sebagai upaya pembatasan agar anak-anak Anda tidak terjerumus pada pergaulan bebas para remaja.

Pacaran bisa dikatakan sebagai start awal seorang remaja terjebak ke dalam pergaulan bebas. Sulit menjamin rasa tanggung jawab seorang remaja terhadap kekasihnya, yang akan terjadi kebanyakan adalah hancurnya masa depan remaja puteri akibat pergaulan bebas yang bisa jadi diawali dari kedekatan hubungannya dengan sang pacar.

Berilah kasih sayang yang penuh pada putera puteri Anda, fokuskan energi mereka untuk meraih pendidikan tinggi dan meraih cita-cita hidup. Tegaskan bahwa konskuensi berpacaran adalah menikah, sudah siapkah Anda menikah? Jika belum, jangan coba-coba berpacaran.

Merokok dan tawuran
Merokok saat ini tak hanya menjadi budaya remaja yang cukup negtop di kalangan kaum pria, kaum wanita remaja bahkan banyak yang telah ketagihan dengan sebatang benda mematikan tersebut. Rokok memiliki dampak yang sangat buruk bagi seseorang.

Disamping merugikan kesehatan, persoalan finansial juga sangat dipermasalahkan. Usia remaja merupakan usia dimana seorang anak secara biaya masih menjadi tanggungan orang tua. Merokok merupakan salah satu bentuk pemborosan finansial. Tak hanya itu, merokok juga merupakan awal dari pemicu kenakalan remaja yang lain seperti konsumsi narkoba, miras dan sebagainya.

Tawuran juga merupakan bagian dari budaya remaja yang cukup buruk dan sayangnya malah menjadi hal yang cukup trend di kalangan remaja. Orang tua perlu memberi pendidikan moral kepada para remaja, agar mereka bisa mengendalikan emosi dan sikap saat berinteraksi dengan lingkungannya.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 19 Desember 2011 in Pendidikan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: