RSS

Makalah Ekologi Tumbuhan

02 Des

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang

Ekologi merupakan suatu kajian tentang makhluk hidup di tempat tinggalnya atau habitatnya. Dari pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa lingkungan merupakan komponen penting di dalamnya. Lingkungan merupakan keseluruhan faktor hidup (biotik) dan faktor tak hidup (abiotik) yang meliputi dua bagian : lingkungan makro dan lingkungan mikro. Lingkungan makro adalah lingkungan yang cukup dekat dengan obyek yang dipengaruhi. Lingkungan mikro berbeda dengan lingkungan makro. Sebagai contoh, lingkungan mikro di bawah kanopi hutan berbeda dengan lingkungan makro di atasnya, seperti kelembaban, kecepatan angin,dll. Lingkungan mikro di bawah batu di padang pasir lain pula keadaannya. Baik lingkungan makro maupun lingkungan mikro sangat mempengaruhi keberadaan suatu spesies yang merupakan suatu unit ekologi.

Spesis ekologi adalah sejumlah tumbuhan yang secara genetis homogen yang beradaptasi pada satu set kondisi lingkungan mikro. Bagian dari suatu lingkungan hidup terdiri dari tumbuhan dan hewan yang berdekatan yang mungkin sebagai anggota atau bukan anggota spesies yang sama. Dari spesies sebagai suatu unit ekologi dapat berkembang menjadi spesies dalam lingkungan yang kompleks.

1.2. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam makalah ini yaitu :

v      Apa itu Hukum Minimum Leibig?

v      Apa itu Hukum Toleransi dari Shelford?

v      Bagaimana konsep faktor pembatas?

v      Bagaimana konsep relung?

v      Apa itu spesies taksonomi?

v      Apa itu spesies ekologi?

v      Apa itu ekotipe?

 

1.3. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan dari makalah ini yaitu :

v            Untuk menjelaskan Hukum minimum Leibig.

v            Untuk menjelaskan hukum toleransi Shelford.

v            Untuk menjelaskan konsep faktor pembatas.

v            Untuk menjelaskan konsep relung.

v            Untuk mengetahui tentang spesies taksonomi.

v            Untuk mengetahui tentang spesies ekologi.

v            Untuk mengetahui tentang ekotipe.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1.    Hukum Minimum Leibig

Untuk dapat bertahan dan hidup dalam keadaan tertentu, suatu organisme harus memiliki bahan-bahan yang penting yang diperlukan untuk pertumbuhan dan berkembang biak. Keperluan-keperluan dasar ini bervariasi antara jenis dan keadaan. Di bawah keadaan – keadaan mantap, bahan yang penting yang tersedia dalam jumlah paling dekat mendekati minimum yang diperlukan adalah merupakan pembatas. Hukum ini dikembangkan oleh Justus Van Leibig (1840).

Hukum minimum menunjukkan bahwa suatu panenan tanaman sering dibatasi oleh tersedianya nutrisi dalam jumlah yang sedikit. Kemudian setelah faktor- faktor yang mempengaruhinya diperluas, definisi hukum ini menjadi : pertumbuhan dan tatanan distribusi suatu spesis bergantung pada suatu faktor lingkungan yang diperlukan dalam jumlah mininmum.

Validasi hukum ini telah dilakukan di mana-mana. Sebagai contoh, rumput-rumputan yang kurus di Australia sebagai akibat defisiensi mikronutrisi tembaga, seng, atau molibdenum. Dengan ditambahkan 6-8 kg/Ha tembaga sulfat atau seng sulfat setiap 4-10 tahun, pertumbuhan rumput akan menjadi 300% dan pada gilirannya, diproduksi wool dari biri-biri yang memakan rumput meningkat pula. Dengan penambahan hanya 140 g/Ha sodium molibdenum tiap 5 sampai 10 tahun pertumbuhan rumput meningkat 6 -7 kali (Moore, 1970).

Hukum ini sebenarnya memiliki keterbatasan. Pertama, hukum ini hanya berlaku dalam kondisi keseimbangan yang dinamis. Apabila masukan dan pengeluaran energi serta materi dari ekosistem tidak berada dalam keseimbangan, jumlah berbagai substansi yang diperlukan akan berubah terus. Kedua, hukum ini harus memperhitungkan pula adanya interaksi di antara faktor- faktor lingkungan. Ketersediaan substansi yang melimpah mungkin akan mempengaruhi laju pemakaian substansi lain dalam jumlah yang minimum. Sering terjadi makhluk hidup  memanfaatkan unsur kimia tambahan yang mirip dengan yang diperlukan tetapi uunsur kimia itu tidak ada di habitatnya. Contoh : tidak adanya kalsium di suatu habitat tetapi stronsium melimpah, beberapa moluska mampu memanfaatkan stronsium ini untuk membentuk cangkangnya.

2.2.    Hukum Toleransi Shelford

Salah satu perkembangan yang penting dalam kajian faktor lingkungan terjadi pada tahun 1913, ketika Victor Shelford mengemukakan hukum toleransi. Hukum ini mengemukakan pentingnya toleransi dalam menerangkan distribusi makhluk hidup.

Hukum toleransi menyatakan bahwa untuk setiap faktor lingkungan suatu spesies mempunyai suatu kondisi minimum dan maksimum yang dapat dipikulnya, di antara kedua harga ekstrim ini merupakan rentangan toleransi, termasuk di dalamnya kondisi optimum.

Beberapa prinsip yang lebih rendah yang mendukung hukum toleransi  adalah:

v      Makhluk hidup mungkin memiliki rentangan toleransi yang lebar terhadap suatu faktor dan sempit untuk faktor lain.

v      Makhluk hidup dengan rentangan toleransi yang lebar untuk semua faktor tampaknya akan tersebar secara meluas.

v      Bilamana suatu kondisi lingkungan sangat minimum, maka akan berpengaruh terhadap kondisi lingkungan lainnya. Misalnya, apabila nitrat dalam tanah terbatas jumlahnya, maka resistensi rumput terhadap kekeringan akan menurun.

v      Seringkali terjadi bahwa makhluk hidup di alam tidak selalu berada dalam kondisi optimum. Dalam hal ini faktor yang lain menjadi sangat penting. Contoh : anggrek dapat tumbuh dengan baik apabila terkena sinar langsung daripada di dalam tempat teduh, namun kelembapan lebih menguntungkan mereka.

v      Pada waktu reproduksi, faktor lingkungan sangat penting. Batas –batas toleransi pada biji-bijian, telur, embrio, kecambah dan larva hewan umumnya lebih pendek.

Untuk memberikan gambaran umum tentang rentangan toleransi ini, biasanya dipakai awalan steno untuk rentangan toleransi yang sempit, dan iri untuk rentangan toleransi yang lebar.

Toleransi sempit Toleransi lebar Faktor lingkungan
Stenotermal

Stenohidrik

Stenohalin

Stenofagik

Stenodafik

Stenoesius

Iritermal

Irihidrik

Irihalin

Irifagik

Iridafik

Iriesius

Suhu

Air

Salinitas

Makanan

Tanah

Seleksi habitat

2.3.    Konsep Faktor Pembatas

Meskipun hukum Shelford ini pada dasarnya benar, namun sekarang pakar ekologi berpendapat bahwa hukum Shelford ini terlalu kaku. Akan lebih bermanfaat kalau digabungkan antara konsep minimum dari Liebig dengan konsep toleransi Shelford. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa kehadiran dan keberhasilan makhluk hidup bergantung pada kondisi- kondisi yang tidak sederhana.

Makhluk hidup di alam dikendalikan tidak hanya oleh persediaan makanan, minuman yang diperlukannya, tetapi juga oleh faktor-faktor lain yang keadaannya kritis. Faktor apapun yang kurang atau melebihi batas toleransinya mungkin akan merupakan pembatas dalam penyebaran spesis.

2.4.    Konsep Relung

Relung atau niche merupakan cara hidup dari makhluk hidup dalam habitatnya. Relung juga dapat diartikan sebagai deskripsi multidimensional dari kebutuhan sumber daya spesis, kebutuhan habitat dan toleransi lingkungan (Hutchinson,1957). Dalam suatu habitat, dapat hidup berbagai jenis makhluk. Jika ada dua hewan, misalnya mempunyai niche yang sama maka akan terjadi persaingan. Dalam persaingan yang ketat, masing-masing jenis mempertinggi efisiensi cara hidup. Dan masing–masing akan menjadi lebih spesialis yaitu relungnya menyempit. Akan tetapi bila populasi semakin meningkat, maka persaingan antar individu di dalam jenis tersebut akan terjadi pula. Dalam persaingan ini individu yang lemah akan terdesak ke bagian niche yang marginal. Sebagai efeknya ialah melebarnya relung, dan jenis tersebut akan menjadi lebih generalis. Ini berarti jenis tersebut semakin tahan atau kuat. Misalnya, perlu kita bedakan antara tumbuhan yang memiliki relung yang sempit karena sempitnya toleransi terhadap faktor-faktor lingkungan dan tumbuhan yang sebenarnya memiliki relung yang luas tetapi karena berkompetisi dengan spesis lainnya, relungnya menjadi sempit.

Ringkasnya relung sebagai kesesuaian yang kompleks dari spesis terhadap atribut ekologi termasuk toleransi abbiotik, laju pertumbuhan relatif yang maksimum, fenologi, pengaruh dari berbagai musuh, kemampuan berkompetisi dengan tumbuhan lain.

2.5.            Spesies Taksonomi

Yang dimaksud dengan dengan spesies taksonomi adalah spesis yang terdiri dari sejumlah populasi yang memiliki kesamaan morfologi dan ekologi yang mungkin dapat atau tidak dapat saling kawin, tetapi secara reproduksi terpisah dari kelompok itu. Dalam defenisi ini dikombinasikan 3 aspek :

1)                        Perwujudan luar (morfologi).

2)                        Tingkah laku kawin.

3)                        Perbedaan habitat.

Para pakar taksonomi biasanya tidak terlalu menekankan aspek ketiga, tetapi lebih menekankan aspek pertama, meskipun secara terbatas sebagai indikator lingkungan.

2.6.            Spesies Ekologi

Pakar ekologi tumbuh-tumbuhan ingin menggunakan spesies sebagai alat alternatif untuk memahami ekosistem. Bilamana kebutuhan spesies dapat dipahami, sumber dayanya diketahui, maka keberadaan spesies tersebut dengan sifat-sifatnya dapat dipergunakan untuk memperkirakan kondisi lingkungan, seperti kondisi tanah, nutrisi, intensitas sinar, adanya gangguan, adanya tanaman atau hewan lain yang berinteraksi dengan spesies tersebut.

2.7. Ekotipe

Linnaeus dan pakar taksonomi sesudahnya menyadari  bahwa spesies itu tidaklah homogen: anggota tubuhnya berbeda dalam ketinggian, ukuran dan waktu berbunga, atau sifat-sifat lainnya dapat berubah karena intensitas cahaya, ketinggian lintang, ketinggian tempat atau sifat-sifat tempat lainnya.

Melalui eksperimen yang dilakukan oleh Gote Turesson pada awal abad dua puluh menyatakan bahwa banyak variasi pada spesies menurun daya  menunjukan adaptasi terhadap lingkungan tertentu. Dia menanam spesies tumbuhan  tertentu yang diambil dari berbagai negara di Eropa dengan berbagai kondisi lingkungan dan berbagai perwujudan di suatu kebun percobaan. Tureson menyebutnya sebagai ekotipe. Ekotipe adalah sebagai hasil dari respon genetis populasi erhadap habitat.

Konsep ekotipe ini penting karna menekankan heterogenitas genetis dari spesies taksonomi dan pengaruh lingkungan lokal terhadap morfologi,dan tingkah laku. Konsep ekotipe tidak lagi diskrit dan berbeda satu dengan yang lain seperti dalam spesies. Konsep ekotipe yang bertangga bertingkat dari Turesson harus diganti dengan konsep Ekoklin. Ekoklin adalah gradasi sifat-sifat spesies (atau komunitas atau ekosistem) yang dikaitkan dengan gradasi lingkungan. Ekoklin digunakan untuk memprediksi gradasi lingkungan sendiri (Hansons,1962). Memang disadari bahwa habitat itu kadang-kadang diskrit pula. Untuk keperluan inilah konsep ekotipe lebih digunakan.perhatikan gambar dibawah ini untuk memahami konsep ekotipe dan ekoklin.

             MAKALAH

EKOLOGI TUMBUHAN

O

L

E

H

 

KELOMPOK II

 

  1. 1.     MAURITIUS HELLI
  2. 2.     ERLANDIANUS DHARMO
  3. 3.     NESYA DIJAYA
  4. 4.     SARAH MALO
  5. 5.     WIDYA NENOTEK
  6. 6.     MAGDALENA DA SILVA

 

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NUSA CENDANA

KUPANG

2009

BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

  1. Hukum Minimum Liebig, menunjukan bahwa suatu panen tanaman sering dibatasi oleh tersedianya nutrisi dalam jumlah yang sedikit. Setelah faktor–faktor yang mempengaruhinya diperluas, definisinya menjadi petumbuhan dan tatanan distribusi suatu spesies bergantung pada suatu faktor lingkungan yang diperlukan dalam jumlah minimum.
  2. Hukum  Shelford, menyatakan bahwa untuk setiap faktor lingkungan suatu spesies mempunyai suatu kondisi minimum dan maksimum yang dapat dipikulnya, di antaranya kedua harga ekstrem ini merupakan rentangan toleransi, termasuk di dalamnya kondisi optimum.
  3. Konsep Faktor Pembatas, kehadiran dan keberhasilan makhluk hidup bergantung pada kondisi–kondisi yang tidak sederhana. Makhluk hidup tidak hanya dikendalikan oleh makanan,minuman tapi juga oleh faktor lain. Faktor yang kurang atau melebihi batas toleransinya mungkin akan merupakan pembatas dalam penyebaran spesies.
  4. Konsep Relung, merupakan kesesuaian yang kompleks dari spesies terhadap atribut ekologi, termasuk toleransi abiotik, laju pertumbuhan relatif yang maksimum, fenologi, pengaruh dari berbagai musuh, kemampuan berkompetisi dengan tumbuhan lain.
  5. Spesies Taksonomi, merupakan spesies yang terdiri dari sejumlah populasi yang memiliki kesamaan morfologi dan ekologi yang mungkin dapat atau tidak dapat saling kawin, tetapi secara reproduksi terpisah dari kelompok itu.
  6. Spesies Ekologi, merupakan sejumlah tumbuhan yang secara genetis homogen yang teradaptasi pada satu set kondisi lingkungan mikro.
  7. Ekotipe, merupakan hasil dari respon genetis populasi terhadap habitat.

 

KATA PENGANTAR

Pada tempat yang pertama penulis menghaturkan Puji dan Syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa karena atas perkenaanNya penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik.

Makalah yang berisi tentang spesies sebagai unit ekologi dan spesies dalam lingkungan yang kompleks ini dibuat sebagai tugas pada mata kuliah Ekologi Tumbuhan.

Akhirnya penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan.

Kupang,  Maret 2009

                                                                                               Penulis

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 2 Desember 2011 in BiologiQu, Materi Kuliah

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: